Selasa, 09 Oktober 2012

Praktikum 2 (Albumin Dalam Urine)



A.      Judul Kegiatan
Albumin Dalam Urine
B.       Dasar Teori
            Sistem urine tersusun atas ginjal, ureter, vesica urinearia, dan urethra. Berfungsi membantu terciptanya homeostasis dan pengeluaran sisa-sisa metabolisme. Ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga berperan menghasilkan hormon seperti: renin-angiotensin, erythropoetin, dan mengubah provitamin D menjadi bentuk aktif (vit.D).
            Ginjal dapat dibedakan menjadi bagian korteks yakni lapisan sebelah luar warnanya coklat agak terang dan medulla yaitu lapisan sebelah dalam warnanya agak gelap. Pada korteks renalis banyak dijumpai corpusculum renalis Malphigi, capsula Bowmani yang terpulas gelap, sedangkan pada medulla banyak dijumpai loop of Henle.
            Urine dibentuk melalui 3 proses, yaitu filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi. Unit anatomi yang melakukan fungsi ini adalah nefron. Tiap-tiap ginjal memiliki sekitar 1 juta nefron.
            Mula-mula darah yang mengandung air, garam, glukosa, urea, asam amino, dan amonia mengalir ke dalam glomerulus untuk menjalani proses filtrasi. Proses ini terjadi karena adanya tekanan darah akibat pengaruh dari mengembang dan mengerutnya arteri yang memanjang menuju dan meninggalkan glomerulus. Akhir filtrasi dari glomerulus ditampung oleh kapsul Bowman dan menghasilkan filtrat glomerulus atau urine primer. Secara normal, setiap hari kapsul Bowman dapat menghasilkan 180 L filtrat glomerulus.
            Filtrat glomerulus atau urine primer masih banyak mengandung zat yang diperlukan tubuh antara lain glukosa, garam-garam, dan asam amino. Filtrat glomerulus ini kemudian diangkut oleh tubulus kontortus proksimal. Di tubulus kontortus proksimal zat-zat yang masih berguna direabsorpsi. Seperti asam amino, vitamin, dan beberapa ion yaitu Na+, Cl, HCO3, dan K+. Sebagian ion-ion ini diabsorpsi kembali secara transpor aktif dan sebagian yang lain secara difusi.
            Proses reabsorpsi masih tetap berlanjut seiring dengan mengalirnya filtrat menuju lengkung Henle dan tubulus kontortus distal. Pada umumnya, reabsorpsi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh seperti glukosa dan asam amino berlangsung di tubulus renalis. Akan tetapi, apabila konsentrasi zat tersebut dalam darah sudah tinggi, tubulus tidak mampu lagi mengabsorpsi zat-zat tersebut. Apabila hal ini terjadi, maka zat-zat tersebut akan diekskresikan bersama urine.
            Selain reabsorpsi, di dalam tubulus juga berlangsung sekresi. Seperti K+, H+, NH4+ disekresi dari darah menuju filtrat. Selain itu, obat-obatan seperti penisilin juga disekresi dari darah. Sekresi ion hidrogen (H+) berfungsi untuk mengatur pH dalam darah. Misalnya dalam darah terlalu asam maka ion hidrogen disekresikan ke dalam urine.
            Sekresi K+ juga berfungsi untuk menjaga mekanisme homeostasis. Apabila konsentrasi K+ dalam darah tinggi, dapat menghambat rangsang impuls serta menyebabkan kontraksi otot dan jantung menjadi menurun dan melemah. Oleh karena itu, K+ kemudian disekresikan dari darah menuju tubulus renalis dan dieksresikan bersama urine.
            Pada saat terjadi proses reabsorpsi dan sekresi di sepanjang tubulus renalis secara otomatis juga berlangsung pengaturan konsentrasi pada urine. Sebagai contoh, konsentrasi garam diseimbangkan melalui proses reabsorpsi garam. Di bagian lengkung Henle terdapat NaCl dalam konsentrasi tinggi.
            Keberadaan NaCl ini berfungsi agar cairan di lengkung Henle senantiasa dalam keadaan hipertonik. Dinding lengkung Henle descending bersifat permeabel untuk air, akan tetapi impermeabel untuk Na dan urea. Konsentrasi Na yang tinggi ini menyebabkan filtrat terdorong ke lengkung Henle bagian bawah dan air bergerak keluar secara osmosis.
            Di lengkung Henle bagian bawah, permeabilitas dindingnya berubah. Dinding lengkung Henle bagian bawah menjadi permeabel terhadap garam dan impermeabel terhadap air. Keadaan ini mendorong filtrat untuk bergerak ke lengkung Henle ascending.
            Air yang bergerak keluar dari lengkung Henle descending dan air yang bergerak masuk saat di lengkung Henle ascending membuat konsentrasi filtrat menjadi isotonik. Setelah itu, filtrat terdorong dari tubulus renalis menuju duktus kolektivus. Duktus kolektivus bersifat permeabel terhadap urea. Di sini urea keluar dari filtrat secara difusi. Demikian juga dengan air yang bergerak keluar dari filtrat secara osmosis. Keluarnya air ini menyebabkan konsentrasi urine menjadi tinggi.
            Dari duktus kolektivus, urine dibawa ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urine mengalir melalui ureter menuju vesika urinearia (kantong kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara bagi urine.
            Albumin merupakan protein utama dalam plasma manusia ( kurang lebih 4,5 g/dl), berbentuk elips dengan panjang 150 A, mempunyai berat molekul yang bervariasitergantung jenis spesies. Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000 dan didalam daging mamalia 63.000 (Muray et al, 1983; Aurand and Woods, 1970; Montgomert et al, 1983).
            Albumin mencakup semua protein yang larut dalam air bebas dan amonium sulfat 2,03 mol/L. Albumin merupakan protein sederhana. Struktur globular yang tersusun dari ikatan polipeptida tunggal dengan susunan asam amino sebagaimana ditunjukkan pada labu 6. Berdasarkan klasifikasi protein menurut komposisinya di dalam albumin tidak tergantung komponen bukan protein( Kusnawijaya, 1981; Montgomert et al, 1983; Pesce and Lwarence, 1987).
            Kandungan albumin antara suatu spesies dengan spesies lainnya berbeda. Salah satu faktor yang menentukan kadar albumin dalam jaringan adalah nutrisi(Tandra dkk, 1988) menjelaskan bahwa faktor utama sintesa albumin adalah nutrisi, lingkungan, hormon, dan ada tidaknya suatu penyakit, lebih lanjut Lestiani dkk, (2000) menjelaskan bahwa kira – kira 12 g albumin disintesa oleh hati setiap hari pada penderita sironis hepatitis lanjut fungsi sintesis albumin menurun. Asam amino mempunyai peranan sangat penting bagi sintesa albumin dalam jaringan.
            Klasifikasi berdasarkan fungsi biologisnya, albumin merupakan protein pengangkut asam lemak dalam darah( Suwandi dkk, 1989). Di dalam plasma manusia albuimin merupakan fraksi protein dengan berat molekul 66.300 sampai 69.000, terdiri dari asam amino, yang terutama adalah asam aspartat dan glutamat dan sangat sedikit triptofan. Albumin merupakan hampir 50% dari protein plasma dan bertanggung jawab atas 75 – 80% dari tekanan osmotik pada plasma manusia (Murray et al, 1990).
            Montgomert et al. (1983) menjelaskan bahwa albumin mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengangkut molekul- molekul kecil melewati plasma dan cairan sel, serta memberi tekanan osmotik di dalam kapiler. Fungsi pertama albumin sebagai pembawa molekul- molekul erat kaitannya dengan bahan metabolisme dan berbagai macam obat yang kurang larut. Bahan metabolisme tersebut adalah asam- asam lemak dan bilirubin. Dua senyawa kimia tersebut kurang dapat larut dalam air tetapi harus diangkut melalui darah dari satu organ ke organ  yang lainagar dapat dimetabolisme atau disekresi. Albumin berperan membawa senyawa kimia tersebut dan peran ini disebut protein pengangkut non- spesifik.
            Fungsi utama albumin lainnya adalah menyediakan 80% pengaruh osmotik plasma. Hal ini disebabkan albumin merupakan protein plasma yang jika dihitung atas dasar berat mempunyai jumlah paling besar dan albumin memiliki berat molekul rendah dibanding fraksi protein plasma lainnya menginformasikan bahwa preparat albumin digunakan dalam terapi diantaranya hipoalbuminemia, luka bakar, penyakit hati, penyakit ginjal, saluran pencernaan, dan infeksi (Montgomer et al, 1983; Murray et al, 1990; Tandra dkk,1998).
            Kegunaan lain dari albumin adalah dalam transportasi obat – obatan, sehingga tidak menyebabkan penimbunan obat dalam tubuh yang akhirnya dapat menyebabkan racun (Desce and Lawrence, 1987). Jenis obat – obatan yang tidak mudah larut dalam air seperti aspirin, antikoagulan, dan obat tidur memerlukan peran albumin dalam transportasinya.
C.      Alat dan Bahan
1.      Urine
2.      Asam Nitrat Pekat
3.      Tabung Reaksi
4.      Pipet
D.      Cara Kerja
1.      Memasukan 3 ml asam nitrat pekat ke dalam tabung reaksi.
2.      Memiringkan tabung reaksi tersebut kemudian meneteskan urine dengan mempergunakan pipet secara perlahan-lahan hingga urine turun melalui sapanjang tabung.
3.      Bila urine mengandung albumin akan terlihat adanya cincin yang berwarna putih yang terdapat pada daerah kontak urine dan asam nitrit.
E.       Hasil Pengamatan


           Gambar Hasil Pengujian Albumin Dalam Urine

Tabel Hasil Pengamatan
No.
Nama Tester
Hasil Reaksi
1.
Diabetes Melitus
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)
2.
RF
Terdapat albumin (adanya cincin putih)
3.
Normal 1
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)
4.
Normal 2
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)
5.
Normal 3
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)
6.
Normal 4
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)
7.
Normal 5
Tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih)

F.       Pembahasan
              Berdasarkan hasil tes yang dilakukan, urine DM, normal 1, normal 2, normal 3, normal 4, dam normal 5 tidak ada albumin (tidak terdapat cincin putih. Hal ini menunjukkan bahwa  ginjal dari keenam sampel urine ini normal atau masih dapat menyaring albumin dengan baik. Sedangkan pada urine penderita RF mengandung albumin yang ditandai dengan cincin putih yang terdapat pada daerah kontak urine dan asam nitrit.
              Idealnya, di dalam urine tidak terdapat albumin. Hal ini dikarenakan ukuran molekul albumin yang cukup besar sehingga dapat disaring dalam proses filtrasi oleh glomerulus di ginjal. Namun, apabila di dalam urine terdapat albumin maka dapat diindikasikan bahwa ginjal tidak bekerja dengan baik terutama pada proses filtrasi.
              Protein albumin jika terkena asam nitrat pekat akan terjadi denaturasi protein di permukaan dan membentuk cincin putih diantara urine dan asam nitrit pekat. Sehingga asam nitrat pekat ini sangat berguna untuk membantu mengidentifkasi adanya kandungan albumin dalam urine.
G.      Kesimpulan
1.      Urine penderita RF terdapat cincin berwarna putih yang menandakan adanya kandungan albumin di dalam urine akibat dari kerusakan pada ginjal.
2.      Pada urine yang normal tidak terdapat cincin putih ini di sebabkan karena ginjal masih berfungsi dengan baik dan masih bisa melakukan penyaringan.
H.      Pertanyaan dan Jawaban
1.      Jelaskan bagaimana albumin bisa masuk ke dalam urine!
Jawaban: Albumin dapat masuk ke dalam urine apabila ginjal tidak dapat bekerja dengan baik akibat dari kerusakan pada membran kapsul endothelium, yang menyebabkan terganggunya proses filtrasi.
2.      Apa hubungannya antara kadar albumin yang tinggi dalam urine dengan kesehatan yang bersangkutan? Jelaskan!
Jawaban: Albumin merupakan molekul yang mempunyai berat molekul yang besar. Apabila dalam urine seseorang terdapat albumin, maka hal tersebut menunjukkan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endhotellium. Selain itu, hal tersebut dapat disebabkan oleh iritasi sel ginjal dikarenakan masuknya substansi seperti bakteri, eter, atau logam berat.

0 komentar:

Poskan Komentar