Selasa, 09 Oktober 2012

Praktikum 5 (Urea Dalam Urine)


A.      Judul Kegiatan
Urea Dalam Urine
B.       Dasar Teori
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin
Air seni atau urin berisi berbagai zat limbah yang dikeluarkan dari tubuh. Namun, selain membuang limbah, urin juga berisi informasi mengenai apa yang terjadi di tubuhAnda. Urin yang mengandung glukosa, terlalu banyak protein,  atau zat lainnya dapat menjadi pertanda masalah kesehatan. Urin dapat dievaluasi dari penampilan fisiknya, kandungan zat kimia dan zat mikroskopik di dalamnya. Penampilan fisik urin yang dapatdilihat dengan observasi langsung adalah:
1.    Warna. Warna urin dapat bervariasi dari bening kekuningan sampai gelap kecoklatan.
2.    Kejernihan. Urin biasanya jernih. Banyak zat yang dapat menyebabkan urin menjadi keruh.
3.    Bau. Urin berbau sedikit pesing yang khas. Beberapa penyakit menyebabkan perubahan bau urin.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
Urea merupakan zat diuretik higroskopik dengan menyerap air dari plasma darah menjadi urin. Kadar urea dalam darah manusia disebut BUN (bahasa Inggris: Blood Urea Nitrogen). Peningkatan nilai BUN terjadi pada simtoma uremia dalam kondisi gagal ginjal akut dan kronis atau kondisi gagal jantung dengan konsekuensi tekanan darah menjadi rendah dan penurunan laju filtrasi pada ginjal. Pada kasus yang lebih buruk, hemodialisis ditempuh untuk menghilangkan larutan urea dan produk akhir metabolisme dari dalam darah.
Pada eukariota, siklus urea (bahasa Inggris: urea cycle, ornithine cycle) merupakan bagian dari siklus nitrogen, yang meliputi reaksi konversi amonia menjadi urea. Siklus ini ditemukan pertama kali oleh Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada tahun 1932.
Jika sel tubuh kelebihan asam amino, asam amino tersebut akan mengalami deaminasi. Deaminasi merupakan pemindahan gugus amin     (-NH) dari asam amino. Deaminasi mengakibatkan terkumpulnya amonia yang bersifat racun. Di dalam hati juga terjadi suatu siklus yang dinamakan siklus ornitin. Siklus ini merupakan siklus yang berperan penting dalam pembentukan urea yang terjadi di dalam hati. Dimulai dari ornithine, kemudian menjadi citruline, dan selanjutnya menjadi arginin.
NH3 + AA1 (ornithine) + CO2 → AA2 (citruline)
NH3 + AA2 (citruline) → AA3 (arginin)
AA3 (arginin)  e.arginase      AA1 (ornithine) + urea
C.      Alat dan Bahan
1.      Urine
2.      Pipet
3.      Gelas Objek
4.      Larutan Oksalat
5.      Larutan Sodium Hipobromide
D.      Cara Kerja
1.      Meneteskan satu tetes urine pada gelas objek
2.      Menghadapkan urine pada cahaya matahari agar urine menguap.
3.      Menambahkan setetes larutan oksalat
4.      Mengamati kristal urea yang terbentuk
5.      Menambahkan beberapa larutan sodium hipobromide
6.      Mengamati pemuaian nitrogen yang terjadi akibat dekomposisi urea
E.       Hasil Pengamatan
1.      Urine Normal
 




   Perbesaran 10x10

2.      Urine Diabetes Melitus
 



    


 Perbesaran 10x10



3.      Urine RF


















   






Perbesaran 10x10

F.       Pembahasan
              Pada percobaan tersebut, kristal urea dapat terlihat di dalam urine melalui pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop (perbesaran 10x10).
              Sebelum melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop, urine terlebih dahulu diuapkan sebagian. Hal ini dilakukan agar kandungan air dalam urine berkurang. Kandungan urea dalam urine dapat dideteksi dengan memberikan larutan oksalat untuk mengamati ada tidaknya kristal urea oksalat dengan menggunakan mikroskop, dan kemudian ditambahkan larutan sodium hipobromide. Penambahan larutan ini berguna untuk melihat kristal yang lebih tajam. Perubahan yang terjadi pada proses ini karena adanya pemuaian nitrogen akibat adanya penguraian urea.
G.      Kesimpulan
1.      Pada setiap urin terdapat kristal urea sebagai zat sisa hasil pembuangan.
2.      Bentuk dan jumlah dari kristal urea bervariasi tergantung pada kandungan zat-zat sisa yang terdapat dalam urine.

0 komentar:

Poskan Komentar